Sabtu, 15 Desember 2007

Sejarah Perisai Diri

Pendiri Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri adalah RM Soebandiman Dirdjoatmodjo, yang akrab dengan panggilan Dirdjo. Beliau adalah putra RM Pakoe Soedirdjo, lahir di Yogyakarta tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Keraton Paku Alaman.

Sejak berusia 9 tahun Dirdjo telah dapat menguasai ilmu silat yang ada di lingkungan keraton. Karena ingin meningkatkan kemampuan ilmu silatnya, setamat HIK, Dirdjo kecil meninggalkan Keraton Paku Alaman dengan berjalan kaki, hanya berbekal tekad. Sampai di Jombang, yang merupakan pusat pesantren di Jawa Timur dengan fasilitas lengkap, ia belajar ilmu agama dan pengetahuan umum di Pondok Pesantren Tebuireng, sambil belajar ilmu silat dari Hasan Basri.

Sambil belajar dan bekerja di Pabrik Gula Peterongan, dengan tekun Dirdjo terus memperdalam ilmu dan tidak menyia-nyiakan waktunya selama di perantauan. Setelah merasa cukup, ia kembali ke Solo dan mendatangi Bapak Sahid Sahab untuk berguru silat. Selanjutnya ia berguru kepada kakeknya, Jogosurasmo yang ahli ilmu kanuragan.

Tujuan selanjutnya adalah kota Semarang, di mana ia belajar ilmu silat pada Bapak Soegito. Masih belum puas dengan pengalaman dan ilmu yang dimilikinya, Dirdjo berguru lagi ilmu kanuragan di Pondok Randu Gunting, Semarang. Langkah selanjutnya menuju ke daerah Jawa Barat, dimulai dari kota Cirebon yang waktu itu cukup dikenal sebagai tempat menimba ilmu silat dan kanuragan. Daerah Kuningan juga dikunjunginya untuk berguru ilmu silat.

Setelah Jawa Barat, Dirdjo yang belum puas menuntut ilmu silat, juga berlatih silat Minangkabau dan silat Aceh. Tekadnya untuk menggabungkan dan mengolah berbagai ilmu yang dipelajarinya membuat ia tidak bosan-bosan menimba ilmu. Berpindah guru baginya berarti mempelajari hal yang baru dan menambah ilmu yang dirasakannya kurang. Berbagai pengalaman dan gemblengan akhirnya menjadikan Dirdjo bermental baja dan penuh percaya diri. Ia yakin, bila segala sesuatu dikerjakan dengan baik dan didasari niat yang baik, maka Tuhan akan menuntun untuk mencapai cita-citanya. Ia pun mulai meramu ilmu silat sendiri.

RM Soebandiman Dirdjoatmodjo lalu menetap di Parakan, Banyumas, dan membuka Perguruan Silat Eka Kalbu. Suatu saat ia bertemu dengan seorang Tionghoa yang beraliran beladiri Siauw Lim Sie, Yap Kie San namanya. Dirdjo yang untuk menuntut suatu ilmu tidak memandang usia dan suku bangsa lalu mempelajari ilmu beladiri Siauw Liem Sie dari Suhu Yap Kie San selama 14 tahun. Berbagai cobaan dan gemblengan ia jalani dengan tekun sampai akhirnya berhasil mencapai puncak latihan ilmu silat dari Suhu Yap Kie San.

Setinggi-tinggi burung terbang akhirnya kembali juga ke sarangnya. Begitu juga dengan Dirdjo yang akhirnya kembali ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Ki Hajar Dewantoro yang masih Pak De-nya, meminta Dirdjo mengajar silat di lingkungan Perguruan Taman Siswa.

Tahun 1947 Dirdjo diangkat menjadi Pegawai Negeri pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan seksi Pencak Silat. Dengan tekad mengembangkan ilmunya, Dirdjo lalu membuka kursus silat umum, selain mengajar di HPPSI dan Himpunan Siswa Budaya.

Tahun 1954 ia dipindahkan ke Surabaya ke Kantor Kebudayaan Jawa Timur. Di sinilah dengan dibantu Imam Ramelan, ia membuka dan mendirikan kursus pencak silat "Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI" pada tanggal 2 Juli 1955.

Teknik silat yang diajarkannya adalah gabungan berbagai ilmu beladiri yang ada di Indonesia. Pengalaman dan ilmu silat yang dikuasainya selama itu kini tercurah dalam teknik yang sangat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anatomi tubuh manusia.

Dari mulai didirikan hingga kini teknik silat Perisai Diri tidak pernah berubah, berkurang atau bertambah. Dengan motto Pandai Silat Tanpa Cedera, Perisai Diri diterima oleh berbagai lapisan masyarakat untuk dipelajari sebagai ilmu beladiri.

Tanggal 9 Mei 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo berpulang ke Rahmatullah. Tanggung jawab untuk melanjutkan teknik dan pelatihan silat Perisai Diri beralih kepada para murid-muridnya yang kini telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan beberapa negara di Eropa, Amerika dan Australia. Untuk menghargai jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar "Pendekar Purna Utama" bagi Bapak RM Soebandiman Dirdjoatmodjo tahun 1986.

Apa aja sih yg kita pelajari kalau kita jadi anggota PD?

Dalam kurikulum Perisai Diri, seorang siswa akan diberikan materi latihan yang mencakup pelajaran:

1. Tangan kosong

2. Senjata

3. Pernafasan

4. Kerohanian

Seluruh pelajaran diatas akan diberikan secara bertahap dan terstruktur sesuai dgn tingkatan yang dimiliki. Setiap tingkatan di Perisai Diri memiliki target tertentu yg harus dicapai oleh setiap anggotanya. Kenapa begitu ? karena target tersebut sangat penting untuk mempelajari tehnik yg lebih mendalam pada tingkatan selanjutnya.

Pelajaran tangan kosong, yang merupakan ‘basic’ dari seluruh tehnik, dipelajari mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi, yaitu Pendekar. Setelah cukup mengetahui pelajaran tangan kosong, siswa mulai diberikan pelajaran senjata pada saat menginjak tahun ke tiga. Senjata yang dipelajari juga bertahap, dimulai dari senjata pendek sampai senjata panjang. Ingin tau lebih dalam lagi? simak aja bagian tangan kosong dan senjata.

Selain tangan kosong dan senjata, Perisai Diri juga memberikan pelajaran pernafasan. Latihan pernafasan digunakan untuk menambah tenaga dalam melakukan serangan dan menambah kecepatan dalam bergerak. Istilah ini lebih dikenal dengan istilah gua-kang dan gin-kang. Namun apa yang diberikan oleh Perisai Diri agak berbeda dengan gua-kang dan ginkang yang berasal dari cina. Mau tau apa bedanya ? simak aja lebih dalam di bagian pernafasan.

Bisa bayangin gak, apa yang bakal terjadi apabila seseorang telah memiliki ilmu tangan kosong, permainan senjata dan pernafasan yang mumpuni (hebat), tapi tidak didasari oleh pelajaran budi pekerti yang luhur? Besar kemungkinan mereka akan jadi sombong dan congkak. Oleh karena itu, selain pelajaran diatas, Perisai Diri juga memberikan pelajaran kerohanian pada siswanya, yang pada dasarnya adalah untuk membimbing para siswanya untuk selalu mawas diri dan sadar bahwa dirinya adalah mahluk Yang Maha Kuasa yang harus ingat akan kebesaran Allah sang Pencipta.

Ada satu keyakinan beliau yang sering diingatkan thd murid-muridnya: "Bila segala sesuatu dikerjakan dengan baik, dan di dasari dengan niat yang baik juga, maka Tuhan akan menuntunnya untuk mencapai cita-cita

- Senjata dalam Perisai Diri -

Tidak semua aliran beladiri memberikan pelajaran senjata, tetapi semua aliran pasti mengajarkan bagaimana menghadapi lawan yg menggunakan senjata. Beberapa aliran juga ada yg khusus menekuni senjata, seperti Arnis (Filipina) yg mempelajari stick kembar, para samurai yg menekuni pedang kitana atau kungfu yg menekuni bermacam-macam senjata.

Dalam silat Perisai Diri, pelajaran senjata dibagi menjadi 2 macam. Pelajaran senjata wajib dan senjata tambahan. Senjata wajib dipelajari sejak mereka berada di tingkat keluarga, setelah 2 tahun mengikuti Perisai Diri. Adapun senjata wajib tersebut adalah: Pisau, Pedang dan Thoya. Pelajaran tersebut diberikan scr terstruktur dimulai dari dasar pemahaman senjata dan cara penggunaannya.

Mau tau kenapa harus pisau, pedang dan thoya yg menjadi senjata wajib ?

Pisau adalah dasar dari senjata pendek. Setelah mempelajari senjata tersebut, anggota PD diharapkan bisa menggunakan senjata pendek lain spt keris, gunting, pena, dsb. Pedang adalah dasar dari senjata sedang. Sesuai dengan bentuknya, pedang berfungsi untuk memperpanjang dan mempertajam serangan. Setelah mengerti akan penggunaan pedang, siswa diharapkan dapat menggunakan benda dengan panjang yg sama sebagai senjata. Thoya adalah dasar dari senjata panjang. Tidak berbeda dengan yg lain, stl belajar tehnik thoya, siswa diharapkan bisa menerapkan benda apapun yg panjang sbg senjata.

Jadi jelaskan kenapa tiga senjata itu yg dikurikulumkan untuk dipelajari..

Selain senjata wajib, PD juga memberikan pelajaran senjata lain seperti pedang samurai, kipas, abir, pentung, teken, tameng, clurit dll. Seluruh senjata yg tidak termasuk dalam senjata wajib, oleh PD dikategorikan sebagai senjata tambahan. Namun dalam mempelajarinya, tidak terkait dengan tingkatan.

Ada satu hal penting yg perlu diingat dlm pelajaran senjata. Tujuan utama dari pelajaran senjata, bukanlah dengan menunjukan seberapa mahir kita memainkan suatu senjata. Namun lebih mengarah bahwa seorang anggota PD yg telah menguasai tehniknya, dapat menggunakan benda apapun sebagai senjata..

2 komentar:

Panca Wahana mengatakan...

salam bunga sepasang,...
saya mau aktif latihan lagi, tapi kalau ranting d surabaya d daerah semolowaru saya menghubungi siapa dan kalau ada beserta no. hp yang bersangkutan??...trimakasih infonya saya tunggu

Dimitri Nugrahadi mengatakan...

SBS. Saya ikut ujian kenaikan strip putih dan putih hijau di kampus tercinta ini (1993). Apa kabar semua???

Antivirus Terbaru